Selasa, 28 Februari 2012

Simbol kisruh dua Raja Solo

Kekisruhan yang terjadi khususnya di Indonesia tidak hanya terjadi pada panggung politik, tawuran massa atau kompetisi olahraga di Indonesia. Kebo bule keturunan Kiai Slamet di Keraton Surakarta yang bertarung unutk memperebutkan kekuasaan. Pawang kerbau bule mengatakan, pertarungan itu bisa menjadi gambaran dua raja keraton yang Solo yang saat ini swolah tidak akur dan tinggal terpisah.
Memang benar, dua kerbau bule asal keraton Solo, mendadak bertarung di kawasan alun-alun kidul keraton pada kamis, 26 januari 2012. Dua kepala kerbau yang dikeramatkan itu saling menanduk sehingga menyebabkan masing-masing kerbau tersebut mengeluarkan darah yang cukup parah.
Hal ini hampir sama terjadi pada panggung politik yang melibatkan dua raja Solo yang saling berebut kekuasaan. Dua kerbau bule itu bernama Bodong dan Joko, menurut sang pawang, Utomo Gunadi, juga karena berebut kekuasaan. Sang pawang mengatakan kalau Bodong memang sering bertarung. Bahkan dahulu pernah bertarung dengan kerbau bule bernama bagong, yang membuat bagong tidak mau kembali lagi dan memilih berdiam di Solo Baru.
“ada beberapa perkiraan kenapa bodong suka bertarung. Pertama rebutan kekuasaan dan yang kedua rebutan pasanagan. Dua hal itu yang ada di pikiran bodong,” kata Bodong.
Selama ini bodong tidak mempunyai keturunan (anak). Kalau pun ada, pasti meninggal beberapa hari setelah dilahirkan. Jadi kenapa bodong menyerang Joko yang mempunyai keluarga? Bisa dikatakan sedang masa birahi bodong. Apalagi pihak kertaon sudah tidak peduli dengan keberadaan kandang yang sudah tidak layak lagi.
Duel dua kerbau keramat itu juga bisa digambarkan di kehidupan nyata yaitu tentang adanya dua raja keraton Surakarta yang berkuasa saat ini. Dimana dua raja keraton tinggal terpisah seperti halnya dengan bodong dengan joko dimana Bodong tinggal di sebelah timur sedangkan Joko tinggal disebelah barat.
Dimana duel kerbau bule itu menjadi tontonan warga. Tidka hanya beradu kepala, keduanya bahkan juga sempat berkejar-kejaran dari area kandangnya yang berada di kawasan alun-alun kidul hingga ke tengah lapangan. Beberapa warga berusaha melerai tetapi sia-sia.
Pertarungan dua kerbau bule itu, bukan yang pertama kali terjadi menjelang turunnya gunungan sekaten.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Yogyakarta City | Bloggerized by Arya Kawakibi - Bezafour Ganbatte | Arya, Rukmana